Alkisah mozilla.unpad.ac.id

Sebelum mozilla memindahkan mirrornya ke CDN, mirror mozilla tersebar di beberapa tempat di dunia. Mirror-mirror tersebut sebagian merupakan sumbangan dari berbagai macam organisasi, maupun personal yang mempunyai cukup media penyimpanan dan koneksi.

Mozilla menggunakan Bouncer untuk mengelola mirror tersebut, sehingga pada saat user mendownload ataupun melakukan update, user akan diarahkan ke mirror yang paling dekat dengan mereka.

Di Indonesia sendiri, tadinya ada beberapa penyedia mirror (data yang up to date diperoleh dari https://nagios.mozilla.org/sentry/), tapi kemudian tersisa 2. Salah satunya UNPAD. Di antara 2 ini, prioritas UNPAD lebih tinggi. Prioritas mirror ini diset berdasarkan data reliabilitas koneksi yang dikumpulkan oleh Bouncer, karena itu, tiap bulan bisa berbeda-beda prioritasnya, selain itu, penyedia mirror juga bisa meminta ke pengelola mirror untuk menentukan berapa prioritas mirror yang mereka sediakan.

Sebagai penyedia mirror, ada resiko yang musti dihadapi, bagaimana kalau user dari luar Indonesia banyak yang mendownload ke mirror UNPAD ? Bandwidth bisa habis.

Kebetulan saya punya node yang lagi nganggur di OpenIXP dengan koneksi 1 Gbps, 4 cores CPU, 8 GB memory, 500 GB hdd (SATA), yang selanjutnya kita sebut node-oixp. Sementara di sisi UNPAD ada 1 node dengan 2 cores, 1 GB memory, 500 GB (SATA), selanjutnya kita sebut saja node-intl.

Dengan 2 node ini, saya pengen kalau user yang berasal dari Indonesia, akan mendownload dari node-oixp, sisanya, termasuk juga proses check dari Bouncer mozilla, dihandle oleh node-intl.

Untuk memilah-milah user ini, pertama bisa dilakukan dari sisi DNS. Saya menggunakan Bind, dengan memanfaatkan split view, dan data GeoIP dari maxmind.com. Tapi ini saja tidak cukup.
Karena kalau user yang berasal dari Indonesia, menggunakan DNS seperti Google DNS, OpenDNS dll, jadinya dianggap sebagai dari luar Indonesia. Untuk itu dari sisi node-intl juga perlu diproses untuk memilah user tadi. Untuk proses ini saya menggunakan nginx HttpGeoipModule. Di kedua node saya menggunakan nginx sebagai webserver.

Berikut cuplikan lalu lintas koneksi di node-oixp, pada saat hari biasa dan pada saat mozilla melakukan release baru.

mozilla.unpad.ac.id-traffic

 

Catatan : pada saat traffic seperti ini, menonton log akses ke webserver dengan menggunakan logstalgia, merupakan hiburan tersendiri.

Asal muasal belajar UNIX

Unix (officially trademarked as UNIX, sometimes also written as Unix in small caps) is a multitasking, multi-user computer operating system originally developed in 1969 by a group of AT&T employees at Bell Labs, including Ken Thompson, Dennis Ritchie, Brian Kernighan, Douglas McIlroy, Michael Lesk and Joe Ossanna.

Waktu awal kuliah, saya merasa masih punya waktu luang untuk belajar hal-hal yang lain, tanpa mengorbankan IP yang, well.. 4 waktu itu *nyisir*.

Salah satu yang terlintas untuk mengisi waktu luang adalah belajar komputer. Minimal, bisa ngerakit komputer sendiri, kalau ada rejeki buat beli komputer nanti.

Saat itu bisa dianggap pengetahuan saya minus tentang komputer. Kenapa minus ? Karena setelah sedikit mengerti, saya sadar bahwa banyak persepsi saya yang sangat keliru waktu itu. Misalnya, saya pernah punya komentar, “Eh ada software buat ngetik yang baru namanya Microsoft Windows” See ? Ini termasuk kategori minus, atau mungkin juga termasuk ilmu hitam.

Teman-teman kuliah saya, beberapa orang ada yang kuliahnya dobel (dengan ITB). Karena saya anggap bisa dipercaya, toh mereka kuliah di Teknik, saya tanya ke mereka, kursus atau pelatihan apa yang harus saya ambil kalau pengen tau caranya ngerakit komputer. Target saya waktu itu gak muluk-muluk, bisa ngerakit komputer aja, itu sudah.

Setelah tanya sana-sini akhirnya salah seorang dari mereka bilang “ambil kursus di Piksi ITB aja Ki, ada pelatihan Unix User”. Ok, tanpa babibu, saya daftar, dan mulai ikut pelatihan yang memakan waktu 5 hari berturut-turut.

Kalau saya tidak salah ingat, hari pertama diterangin tentang sedikit konsep Operating System, FreeBSD, yang merupakan salah satu varian UNIX dan instalasinya. Nasib saya ? Alhamdulillah saya cengo dengan tingat super. Operating System itu apaaaa ???? FreeBSD ini mahluk apa lagi ??

Kepalang basah, saya pikir, hajar aja sampai beres. Apapun ini, bakal nambah ilmu (dengan sedikit berharap, semoga bukan ilmu hitam bin salah kaprah lagi)

Hari-hari berikutnya, mulai berinteraksi dengan terminal, shell (tenang, saya masih cengo kok), pemrograman sederhana dengan shell. Sampai akhirnya beres. Lalu nasib saya ? Tujuan awal untuk minimal bisa merakit komputer, berakhir dengan kebingungan baru.

Entah bisikan dari mana lagi, ada pelatihan tentang Pemrograman C++, saya juga akhirnya ikutan. Abis itu ngerti ? Rela tidak rela, harus diakui, ternyata konsistensi saya untuk bingung cukup kuat.

Kapokmu kapan tho :|

Ke Yogya lagi

Yogyakarta.

Kali ini saya berkunjung kembali, berdua sama papajim, ceritanya lagi pada butuh ganti suasana. Biar lebih berasa jalannya, kita naik kereta, ketemuan di Bandung, lalu naik kereta ke Yogya.

Di kereta, ternyata gak boleh ngerokok, mulut asem :| Tapi.. diperhatiin, tiap kereta berhenti, beberapa orang pada turun. Pikiran kita ternyata sama, liat-liatan, trus ngomong, ‘turun yuk, ngerokok’ | yuk! :D

Sampai di Yogya, sudah ditunggu Pakdhe @lantip dan Budhe @flafea. Akhirnya, saya ketemu juga sama Budhe, yayyy! :D Senang itu kadang tercipta dari sesuatu yang sederhana. Saya juga ketemu sama Mata Air, what a young fella :)

Melihat perkembangan di twitter, dan social media lainnya, eh tapi bentar, sebelum terjadi kesalahpahaman, saya bukan pakar social media, ataupun pakar social media wannabe, pakar it, atau sejenisnya. Deal ya ?

Ok, tak lanjut, ada sesuatu yang hidup di Yogya ini, yang bikin saya kangen dengan awal-awal saya ada di Bandung. Komunitas-komunitas, baik yang bersinggungan dengan IT, ataupun yang tidak, individu-individu yang terlibat di dalamnya, mereka hidup, bergairah.

Sedangkan Bandung ? Entah, sepertinya semua serba komersil di sini sekarang. Bukannya tidak bagus, di sisi lain, berarti industrinya ada pergerakan. Tapi yang saya maksud lebih ke arah, kegilaan, inovasi, ngoprek.

Dulu di Bandung, yang ngoprek Operating System, wireless, aplikasi, dan juga yang lainnya, banyak yang gila. Sekarang ? Kok ya gitu-gitu aja. Ya, menurut saya, Bandung sekarang jauh dari kegilaannya yang saya pernah tau.

Mungkin juga karena saya sudah terlalu lama ada di Bandung, jadinya ngeliat Bandung, begitu-begitu saja, boring. Mungkin.

Tapi mungkin juga tidak, karena dari obrolan teman-teman yang lain, katanya, Yogya memang sedang membangun. Banyak investor yang melirik Yogya sekarang, bahkan ada yang sudah mulai jalan. Bukan cuma di sektor IT, di sektor lainnya juga.

Ada perasaan mirip yang kerasa melihat kejadian ini. Dulu, Bandung juga begini, banyak yang melirik. Semua berbondong-bondong ke Bandung (sekarang juga masih sih, weekend yang gak macet, bisa dibilang sudah musnah, bukan sekedar langka lagi). Sekarang ? jadinya seperti pendapat saya di atas, bo to the ring, boring dengan bonus macet dimana-mana.

Semenjak bangunan-bangunan bertingkat lebih dari 5 itu ada di Bandung, Bandung yang pernah saya kenal, entah hilang kemana.

Semoga, Yogya kelak tidak akan menjadi seperti Bandung. Semoga.

Kalau ada yang tau, ini Bandung bisa digaransiin kemana ya ? Biar bisa gilanya mirip dulu lagi ?

Atau mungkin, saya yang musti melanjutkan perjalanan yang sempat terlintas di pikiran.